JAKARTA – Realisasi pemanfaatan program mandatori biodiesel B40 sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kilo liter (KL). Program B40 ini diklaim berhasil menurunkan impor solar sebanyak 3,3 juta KL.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan realisasi tersebut setara dengan 105,2% di atas target pemanfaatan biodiesel B40 sebanyak 13,5 juta KL pada tahun lalu.“Kebijakan mandatori biodiesel, saya bersyukur bahwa impor solar kita pada 2024 masih kurang lebih 8,3 juta KL, kemudian pada 2025 turun menjadi 5 juta KL. Jadi ini akibat apa? Program biodiesel kita, B40,” kata Bahlil dalam konferensi pers kinerja 2025 kementeriannya, Kamis (8/1/2026).
Pada kesempatan tersebut, Bahlil juga k mbali menggarisbawahi pemerintah akan tetap mengupayakan implementasi mandatori B50 pada 2026 atau tahun ini. “Untuk biodiesel B50, sudah dalam uji coba akan selesai semester I/2026. Pada semester kedua, kita akan lihat. Kalau berhasil, kita akan canangkan untuk ke B50,” tegasnya.
Baca Juga: BRIN Beberkan Tantangan Mandatori Biodiesel dari B40 ke B50
“Dengan demikian, kalau B50 kita pakai dan RDMP insya Allah yang akan kita resmikan dalam waktu dekat sudah terjadi, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi pada 2026.”
Adapun, menurut Bahlil, jenis solar yang akan distop antara lain tipe dengan angka setana atau cetane number (CN) 48 yang biasa digunakan untuk mobil dan kendaraan fasilitas umum.
Sementara itu, untuk tipe CN 51 yang merupakan solar berkualitas tinggi—yang biasa digunakan untuk alat berat pertambangan seperti di PT Freeport Indonesia (PFTI) — masih bisa diimpor karena belum banyak diproduksi di dalam negeri.
“Kita sampai hari ini belum cukup untuk kita produksi yang di Solar 52. Solar 51 kita masih ada opsi impor dari luar karena industri dalam negeri belum cukup,” terangnya. (REL)

