MEDAN – Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir tahun lalu terjadi akibat tata kelola lahan yang tidak memperhatikan aspek ekofisiologi tanaman. Risiko kerusakan lingkungan akibat perubahan iklim bisa diminimalisir jika tata kelola lahan, baik untuk tanaman hutan maupun perkebunan, memperhatikan aspek interaksi antara fungsi fisiologis dengan kondisi lingkungan fisik.
“Interaksi antara fungsi fisiologis tanaman dengan kondisi lingkungan fisiknya tertuang dalam kriteria kelas kesesuaian lahan, baik di lahan mineral, maupun di lahan gambut,” kata Prof Dr Ir Abdul Rauf, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU), dalam diskusi Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU Medan, Selasa (10/2/2026).
Prof Abdul Rauf menegaskan, tanaman apapun jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai untuk pertumbuhannya atau ekofisiologinya tidak sesuai, akan merusak lingkungan. Semua jenis tanaman akan seperti itu. Karena itu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor akhir tahun lalu di Indonesia, tidak serta merta karena budidaya salah satu tanaman, misalnya kelapa sawit.
Baca Juga: BMKG: Perubahan Iklim Picu Meningkatnya Bencana
“Yang bisa disalahkan bukan tanamannya. Tetapi ekofisiologisnya sudah sesuai atau tidak? Nah ketika tidak ada kesesuaian inilah, kerusakan lingkungan terjadi. Ketidaksesuain ekofisiologis itu bisa terjadi akibat aktivitas usaha ilegal seperti illegal logging, illegal planting, dan illegal mining,” kata Prof Rauf.
Paparan Prof Abdul Rauf yang dikenal sebagai pakar konservasi tanah dan air disampaikan dalam Diskusi Ilmiah dengan tema “Dialektika Sawit Indonesia: Perubahan Iklim Global Sebagai Pemicu Bencana di Sumatera”. Selain Prof Abdul Rauf, ikut hadir sebagai pembicara adalah Guru Besar Fakultas Pertanian USU lainnya yaitu Prof Ir Diana Chalil, MSi, PhD dan Deputi Bidang Klimatologi BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) Dr Ardhasena Sopaheluwakan.
Selain para pakar dan akademisi, Diskusi Ilmiah tersebut juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah, perusahaan perkebunan dan kehutanan, serta petani kelapa sawit. “Kalau yang disalahkan sebagai penyebab bencana adalah perkebunan kelapa sawit, tidak tepat. Misalnya di Sumatera Utara, perkebunan kelapa sawit sudah ada sejak 1911. Dan pada 1938, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera sudah mencapai 90.000 hektare,” katanya.
Kata Prof Rauf, tanaman kelapa sawit banyak memiliki karakteristik yang justru baik bagi bagi kelestarian lingkungan. “Kebun sawit memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air signifikan. Setiap pohon dewasa mampu menyerap hingga 10 liter air per hari. Kebun sawit dewasa mampu menyerap air hujan rerata setara 43.500 liter per hari. “Kebun sawit yang dikelola dengan baik pada kelas lahan yang sesuai dapat berperan dalam mengkonservasi tanah dan air,” ujar Prof Abdul Rauf.
Dicontohkan Prof Abdul Rauf, sistem perakaran serabut yang rapat menjadikan tanah di bawah tegakan sawit menjadi gembur. Ini menjadikan area peresapan air berbentuk cembung menyerupai mangkok besar sebagai tandon air tanah. (REL)

