Close Menu
Sawit Kita

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Forwatan dan Industri Sawit Hadirkan Kebahagiaan Ramadan untuk Anak Yatim

    8 Maret 2026

    Tiga Anak Usaha Astra Agro di Aceh Sesuaikan Program CSR dengan Potensi Desa 

    6 Maret 2026

    Asian Agri Kelola Kebun Secara Tepat, Apical Olah Minyak Sawit Bernilai Tambah Tinggi

    6 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Sawit KitaSawit Kita
    • Home
    • Sawit

      Forwatan dan Industri Sawit Hadirkan Kebahagiaan Ramadan untuk Anak Yatim

      8 Maret 2026

      Tiga Anak Usaha Astra Agro di Aceh Sesuaikan Program CSR dengan Potensi Desa 

      6 Maret 2026

      Asian Agri Kelola Kebun Secara Tepat, Apical Olah Minyak Sawit Bernilai Tambah Tinggi

      6 Maret 2026

      Alokasi B40 Naik Jadi 15,646 Juta Kiloliter

      27 Februari 2026

      China Tertarik Beli Kredit Karbon Sawit

      27 Februari 2026
    • Klinik

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025

      Mengenal Tandan Partenokarpi dan Cara Pengendaliannya

      27 Februari 2025

      Apakah Pupuk Hayati Cocok untuk Sawit?

      30 November 2024

      Ini Manfaat Asam Humat untuk Tingkatkan Produksi Sawit

      25 November 2024

      Sekat Kanal di Lahan Gambut Tekan Emisi Gas Karbondioksida

      13 September 2024
    • Pertanian

      Prabowo Bakal Sita 4-5 Juta Ha Kebun Sawit Ilegal di 2026

      8 Januari 2026

      Ikuti Perintah KDM, Kebun Sawit di Cirebon Diganti Mangga Gincu

      8 Januari 2026

      Produsen Pupuk Bisa Ekspor Pupuk Nonsubsidi Lagi

      21 Desember 2025

      Pejabat Eselon 1 Kementan Dirombak, Suwandi Jadi Sekjen

      28 November 2025

      Catatan Produksi Beras 2025

      24 November 2025
    • Indepth

      ‘Bom Waktu’ Stok Jumbo Beras Bulog

      11 November 2025

      Melihat Bekantan dan Tanaman Endemik di Hutan Konservasi Astra Agro

      3 November 2025

      Digitalisasi Astra Agro Jadi Kunci Ketelusuran Sawit

      2 November 2025

      39% Lahan Sitaan Satgas PKH Tak Ada Tanaman Sawit

      27 Oktober 2025

      B50 Gerus Neraca Perdagangan Rp18,15 Triliun

      21 Oktober 2025
    • Inovasi

      China Tertarik Beli Kredit Karbon Sawit

      27 Februari 2026

      Tim BiFlow ITS Surabaya Juara Kompetisi Inovasi Digital Sawit

      13 November 2025

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025

      Astra Agro Kenalkan Digitalisasi Perkebunan Sawit ke Mahasiswa Agribisnis IPB

      6 November 2025

      Astra Agro Bangun 10 Methan Capture hingga 2030

      3 November 2025
    • Nasional

      Bantuan Beras-Minyak Goreng Disalurkan Minggu Depan

      22 Februari 2026

      Sawit Kunci Pemulihan Ekonomi Pasca Bencana

      11 Februari 2026

      Ekofisiologis Tak Sesuai Picu Banjir dan Tanah Longsor

      11 Februari 2026

      BMKG: Perubahan Iklim Picu Meningkatnya Bencana

      11 Februari 2026

      Warek USU: Perlu Pendekatan Kolaboratif Antisipasi Bencana

      11 Februari 2026
    • Kisah
    • Korporasi

      Pendapatan Naik 31,35%, Astra Agro Raup Laba Bersih Rp1,47 Triliun

      23 Februari 2026

      CSR Lestari Tani Teladan Fokus di Pendidikan, Kesehatan dan Pemberdayaan Ekonomi

      8 Februari 2026

      PTPN, Aspek-PIR dan KUD Binaan Salurkan Bantuan Korban Banjir di Aceh

      20 Desember 2025

      Aturan Kemitraan Kebun Sawit Bakal Diubah: Plasma 80%, Inti 20%

      12 Desember 2025

      Astra Agro Bukukan Capaian Pengurangan Emisi GRK

      28 November 2025
    • Hilir

      Alokasi B40 Naik Jadi 15,646 Juta Kiloliter

      27 Februari 2026

      MinyaKita Dijual di Atas HET, Mentan: Produsen-Distributor Harus Diproses Hukum

      22 Februari 2026

      Bantuan Beras-Minyak Goreng Disalurkan Minggu Depan

      22 Februari 2026

      Realisasi B40 Sepanjang 2025 Capai 14,2 Juta KL

      13 Januari 2026

      Program Biodiesel Ciptakan 2 Juta Lapangan Kerja

      14 November 2025
    Button
    Sawit Kita
    Home » Jadikan Harga CPO dan Minyak Bumi sebagai Acuan dalam Penerapan Mandatori Biodiesel
    Berita Terbaru

    Jadikan Harga CPO dan Minyak Bumi sebagai Acuan dalam Penerapan Mandatori Biodiesel

    By Redaksi SawitKita20 Oktober 202519 Views
    Facebook Twitter LinkedIn Telegram Email WhatsApp
    Seorang model memperlihatkan biodiesel berbasis minyak sawit di Kantor Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
    Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp Copy Link
    JAKARTA – Pemerintah diminta fleksibel dalam menerapkan kebijakan mandatori biodiesel berbasis minyak sawit. Fleksibilitas ini terutama berpatokan pada dua indikator, yakni harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan harga minyak bumi dunia.
    Rumusnya, apabila harga CPO naik, maka blending atau campuran biodiesel berbasis minyak sawit ke dalam solar diturunkan. Sebaliknya, jika harga CPO turun, maka blending biodiesel ke dalam solar hendaknya dinaikkan.
    Pun demikian apabila harga minyak bumi dunia mengalami kenaikan, maka inilah waktu yang pas untuk menaikkan blending biodiesel ke dalam solar. Sebaliknya, jika harga minyak dunia mengalami penurunan, maka blending biodiesel perlu diturunkan.
    Baca Juga:
    B50 harus Jaga Kebutuhan Domestik, Ekspor dan Kesejahteraan Petani
    Ringkasnya, apabila harga CPO jauh di atas harga minyak dunia, maka kebijakan yang pas adalah menurunkan blending biodiesel ke dalam solar. Sebaliknya, apabila harga CPO jauh di bawah harga minyak dunia, maka pemerintah hendaknya menaikkan blending biodiesel ke dalam solar.
    Kita perlu berpatokan pada rumus tersebut mengingat Indonesia merupakan produsen CPO dunia, namun di sisi lain Indonesia merupakan negara importer minyak bumi. Kajian Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI) menyatakan fleksibilitas kebijakan yang terukur ini menjaga keseimbangan antara kebutuhan CPO domestik, CPO untuk ekspor, dan stabilitas harga energi.
    Dalam kajiannya, Pranata UI menyebutkan tiga negara yang menerapkan kebijakan mandatori energi. Negara tetangga Malaysia saat ini menerapkan B20. Negeri Jiran tersebut memberikan subsidi terbatas, hanya pada konsumen tertentu dan konsumen di wilayah tertentu.
    Baca Juga:
    B50 Bisa Jadi “Genta Kematian” Industri Sawit Indonesia
    Negara Thailand menyesuaikan dengan harga minyak bumi dunia. Jika harga solar turun, campuran minyak nabati dikurangi dan sebaliknya.
    Sementara Brasil menyesuaikan dengan harga minyak nabati (kedelai). Apabila harga minyak nabati tinggi, maka persentase diturunkan, dan sebaliknya dinaikkan bila harga rendah.
    Fleksibilitas yang terukur ini, kata Pranata UI, harus didukung data pasar yang akurat dan real time. “Selain itu juga adanya teknologi monitoring yang sesuai dengan keadaan, dan koordinasi yang baik antar sektor.”
    Gerus Neraca Perdagangan Rp18,15 Triliun
    Pranata UI juga mengingatkan pemerintah agar tak gegabah menaikkan mandatori biodiesel berbasis minyak sawit dari yang berlaku saat ini 40% (B40) menjadi 50% (B50) pada 2026 mendatang. Kenaikan mandatori beresiko terhadap keseimbangan neraca perdagangan, harga minyak goreng, stabilitas harga tandan buah segar (TBS), serta keberlanjutan fiskal Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
    Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi implementasi B40 berpotensi menghemat devisa dari impor minyak solar sebesar Rp147,5 triliun. Sementara jika dinaikkan menjadi B50 akan menghemat Rp172,35 triliun.
    Dari parameter tersebut, kenaikan mandatori dari B40 menjadi B50 memang terlihat berdampak positif pada penghematan devisa negara. Namun jika dilihat dari potensi devisa ekspor CPO, terlihat sebaliknya.
    Baca Juga:
    BRIN Beberkan Tantangan Mandatori Biodiesel dari B40 ke B50
    Volume ekspor CPO tahun ini diperkirakan sebesar 27,34 juta ton atau sekitar 51% dari total produksi 49,5 juta ton sebagaimana diprediksi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Dengan volume ekspor sebesar itu, maka nilai ekspor yang didapatkan sekitar Rp796,37 triliun.
    Ironisnya, pada 2026 mendatang berbagai kalangan memprediksi tidak akan terjadi kenaikan produksi. Jika mengacu pada angka produksi sama dengan tahun 2025, maka volume ekspor pada 2026 akan sebanyak 20,8 juta ton dengan nilai ekspor turun menjadi Rp605,87 triliun. Penurunan volume ekspor ini dipicu oleh tambahan penggunaan CPO di dalam negeri untuk dijadikan bahan baku biodiesel.
    Sehingga dengan demikian terjadi penurunan nilai ekspor CPO sebesar Rp190,504 trilun. Apabila dibandingkan dengan potensi penghematan devisa dari importasi solar sebesar Rp172,35 triliun, maka akan terdapat selisih angka Rp-18,15 triliun.
    “Jadi jika pemerintah tetap mengimplementasikan B50 pada tahun depan, maka akan terjadi pengurangan devisa dari komoditas sawit sekitar Rp18,15 triliun,” ujar Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan peneliti sawit Eugenia Mardanugraha ketika dihubungi SAWITKITA, Senin (20/10/2025).
    Penerapan B50 juga berpotensi berdampak negatif kesejahteraan petani sawit. Menurut kajian Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI), kebutuhan CPO untuk B40 sekitar 14.200.000 kilo liter (KL) dan untuk B50 sebesar 18.690.000 KL. Dengan demikian dibutuhkan tambahan CPO sebanyak 4.490.000 KL.
    Baca Juga:
    Implementasi B50 Perlu Tambahan Lahan Sawit 2,3 Juta Ha
    Implementasi mandatori biodiesel B50 membutuhkan dana subsidi yang lebih besar seiring meningkatnya volume minyak sawit yang digunakan dalam pencampuran bahan bakar nabati.
    Apabila volume ekspor turun, maka tarif Pungutan Ekspor (PE) perlu dinaikkan agar dana yang dikumpulkan melalui mekanisme pungutan ekspor tetap mampu menutup kebutuhan subsidi biodiesel.
    Saat ini PE ditetapkan sebesar 10%. Jika B50 diterapkan, maka untuk menutupi besaran subsidi biodiesel diperlukan kenaikan PE menjadi 15,17%. Ironisnya, kenaikan pungutan ekspor dapat menekan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani karena biaya ekspor produk turunan sawit (seperti CPO) menjadi lebih mahal.
    Pranata UI menjelaskan bahwa kenaikan Pungutan Ekspor CPO sebesar 5,17% (dari 10% yang berlaku saat ini dan 15,17% asumsi di 2026) akan memicu kenaikan biaya ekspor. “Eksporter menanggung tambahan biaya,” katanya.
    Lantaran adanya tambahan biaya tersebut, maka harga CPO akan ditekan sehingga akan berdampak ke pasar domestik maupun ekspor. Di pasar domestik, karena harga CPO tertekan, maka akan berdampak negatif pada penurunan harga TBS.
    Menurut perhitungan Pranata UI, setiap kenaikan PE sebesar 1% akan menekan harga TBS sebesar Rp333,67 untuk setiap kilogramnya. Jadi apabila terjadi kenaikan PE CPO sebesar 5,17%, maka harga TBS berpotensi turun Rp1.725 per kg.
    “Inilah kenapa kenaikan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 justru menyebabkan kesejahteraan petani sawit menurun, terutama pada petani swadaya,” katanya.
    Jadi kata Eugenia Mardanugraha, secara ekonomi makro, penerapan B50 justru kontra produktif dengan perekonomian nasional. Kenapa demikian? Karena nilai ekspor dari sawit akan turun.
    Selain nilai ekspor turun, lanjut Eugenia Mardanugraha, investasi di sawit tidak ada. “Dampaknya, produksi minyak sawit stagnan bahkan cenderung turun kalau dana BPDP habis untuk subsidi B50 dan tidak ada replanting,” katanya.
    Karena itu, kata Eugenia Mardanugraha, idealnya kebijakan mandatori biodiesel berbasis sawit hendaknya fleksibel dan tidak dipaksakan. “Jadi, campuran CPO dinaikkan saat harga rendah dan diturunkan saat harga tinggi,” paparnya. (SDR)
    Aprobi BPDP Kemendag Kemenkeu Kementan Kementerian ESDM
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp
    Redaksi SawitKita
    • Facebook

    Related Posts

    Berita Terbaru

    Forwatan dan Industri Sawit Hadirkan Kebahagiaan Ramadan untuk Anak Yatim

    8 Maret 2026
    Berita Terbaru

    Tiga Anak Usaha Astra Agro di Aceh Sesuaikan Program CSR dengan Potensi Desa 

    6 Maret 2026
    Berita Terbaru

    Asian Agri Kelola Kebun Secara Tepat, Apical Olah Minyak Sawit Bernilai Tambah Tinggi

    6 Maret 2026
    Top Posts

    Satgas PKH Sita 47.000 Lahan Sawit DL Sitorus di Sumut

    24 April 202528,363 Views

    Ini Perbedaan Antara Pupuk Phonska dan Phonska Plus

    15 November 20239,487 Views

    Pupuk Dolomit untuk Sawit, Cocokkah?

    13 Juni 20237,582 Views

    Tekan Emisi Global, Program B40 Dipuji Malaysia

    7 Maret 20253,546 Views

    Genggam Aset Rp42,6 Triliun, Sinar Mas Jadi Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia

    31 Oktober 20233,151 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    • Telegram
    Facebook Instagram X (Twitter) LinkedIn Telegram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    © 2026 SawitKita. Made by MR.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.