BOGOR – Para ahli lingkungan dan kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan kajian ilmiah membedah secara objektif dugaan keterlibatan korporasi, khususnya PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) yang sebelumnya diisukan di ruang digital sebagai salah satu korporasi penyebab banjir dan longsor di wilayah Tapanuli.
Mereka itu di antaranya Prof Dr Yanto Santosa, Dr Ir Basuki Sumawinata, dan Dr Ir Idung Risdiyanto. Ketiganya diketahui sebagai akademisi yang fokus dalam kajian kehutanan, tanah, dan hidrologi. Para ahli menyimpulkan bahwa tidak ada bukti kuat PT TBS sebagai penyebab banjir.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah posisi kebun sawit PT TBS terhadap DAS Aek Garoga. Berdasarkan analisis peta dan dokumen resmi dari instansi terkait, para akademisi menyebut bahwa lahan PT TBS berstatus Areal Penggunaan Lain (APL), bukan kawasan hutan negara.
Baca Juga: Pakar Sayangkan Dugaan Kebun Sawit Picu Banjir di Sumatera
Selain itu, tudingan terkait kayu gelondongan yang disebut-sebut berasal dari kebun PT TBS juga dikaji. Berdasarkan struktur sungai, temuan lapangan, serta informasi masyarakat setempat, para akademisi menyebut tidak ditemukan bukti kuat yang mengarah langsung ke kebun PT TBS. Dalam diskusi juga mengemuka soal narasi sawit sebagai penyebab banjir. “Isu ini kerap paradoksal,” kata Dr Basuki pada konferensi pers di kampus IPB, Bogor, Jumat (9/1/2026).
Dr Basuki Sumawinata menjelaskan, kajian tentang penyebab banjir Garoga ini tidak dimaksudkan untuk mengonfrontasi pihak mana pun. Fokusnya adalah melengkapi informasi publik dengan data yang berbasis kajian ilmiah. “Kami ingin menambah informasi yang valid dan akurat agar tidak terjadi salah tafsir. Ini bukan soal membela, apalagi menyerang. Ini soal data,” ujarnya.
Dari kajian ini, ada tiga faktor penyebab, di antaranya curah hujan yang cukup tinggi untuk memungkinkan tercapainya batas mencair (Liquid Limit) tanah. Dan adanya batuan induk yang merupakan liat masiv membuat air tidak bisa meresap jauh ke dalam bumi, ditambah lagi solum yang tipis yang memungkinkan cepat tercapainya batas mencair pada perbatasan tanah dan batuan induk.
Baca Juga: HGU Sawit Akan Digunakan untuk Huntara bagi Korban Banjir
“Pada lereng-lereng yang curam biasanya solum tanahnya tipis. Selain hal tersebut di atas faktor bobot tumbuhan di atas tanah juga mendorong terjadinya longsor ini, karena bobot tanaman beserta akarnya bergerak pada bidang lincir yakni perbatasan solum dengan batuan induk yang masiv,” katanya merujuk pada pepohonan berakar dan lumpur tebal di bekas banjir Sumatera.
Ahli ini juga melihat beberapa anak sungai yang berada di sekitar areal kebun PT TBS. Dan tidak berhubungan langsung pada Sungai Garoga. Para ahli ini berkesimpulan, tidak terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa kegiatan TBS merupakan penyebab utama dari kejadian banjir bandang dan longsor di DAS Garoga.
Hal ini juga dikaitkan dengan sejumlah narasumber dari masyarakat sekitar PT TBS di Kecamatan Sipabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah. Dan tudingan TBS sebagai penyebab banjir, dianggap menyederhanakan sebab kejadian hanya kepada satu pelaku usaha ini tidak memenuhi asas kehati-hatian ilmiah dan asas kepastian hukum.
Penilaian kejadian banjir dan longsor harus dilakukan pada skala DAS secara menyeluruh, bukan parsial pada satu entitas usaha. Diperlukan kajian terpadu lintas disiplin (hidrologi, geologi, klimatologi) sebelum penetapan tanggung jawab hukum. (SDR)

