PEKANBARU – Setelah sukses digelar di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (Aspekpir) kembali menggelar Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Pekanbaru, Riau, Rabu (27/8/2025).
Kegiatan yang didukung oleh IAS Global, PT Bio Sarana Indonesia (BSI), Bio Industri Nusantara (Bionusa) dan PT Restoe Bumi Lestari mendapatkan dukungan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Riau serta PTPN IV Regional III Riau.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh perkebunan sawit antara lain Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono yang hadir menjadi keynote speaker bersama SEVP Business Support PTPN IV Regional III Riau Bambang Budi Santoso, Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia Rusman Heriawan, Ketua GAPKI Riau Lichwan Hartono, Ketua Aspekpir Riau Sutoyo. Acara ini dibuka oleh Sekretaris Dinas Perkebunan Riau Supriadi.
Baca Juga: Aspekpir Galakkan Pembuatan Biochar dari Tandan Kosong Sawit
Adapun pembicara pada Bisnis Forum Sawit 2025 adalah Country Sales & Project Manager of IAS Global Edi Haryanto, Technical Sales Manager of IAS Analysis Marcus Suparma, Distric Sales Manager PT Bio Sarana Indonesia Okto DL Naibaho, Staf Ahli Bidang Pemasaran PT Bionusa Dwi Sutanti dan Formuator PT Restoe Bumi Lestari Cahyo Rudi Widianto.
Ketua Dewan Pengawas Aspekpir, Rusman Heriawan mengatakan gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 ini tidak hanya membahas aspek bisnis saja, tetapi juga mencakup inovasi dalam budidaya serta pascapanen kelapa sawit.
Kegiatan ini menampilkan berbagai teknologi baru yang lebih ramah lingkungan. “Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk memastikan bahwa pengembangan kelapa sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan,” tuturnya.
Baca Juga: Kebun Sawit Plasma Diklaim Masuk Kawasan Hutan, Aspekpir Ngadu ke DPR
Rusman menjelaskan kemitraan antara Aspekpir dan perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong kemajuan sektor sawit nasional. Saat ini, Aspekpir menaungi sekitar 800.000 hektare (ha) dari total 16 juta ha perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengungkapkan gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 merupakan kegiatan yang penting untuk mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit melalui jalur kemitraan.
“Petani PIR memiliki peran yang cukup penting, termasuk juga Aspek-Pir yang menaungi para petani plasma tersebut. Kegiatan ini juga langkah yang tepat di situasi produksi perkebunan yang masih stagnan,” katanya.
Baca Juga: Aspekpir Bengkalis Dikukuhkan, Bupati: Angkat Derajat Petani!
Menurut Eddy, perkebunan sawit sangat luar biasa untuk Indonesia. Namun masih banyak belum disadari oleh masyarakat yang terpapar kampanye negatif. Perkebunan kelapa sawit beberapa kali pernah menyelamatkan perekonomian Indonesia.
Pertama saat kenaikan pajak yang terjadi pada tahun 1998. Kemudian pada tahun 2008 saat terjadi krisis di negara Amerika. Lalu pada tahun 2019 saat virus Covid-19 mewabah di Indonesia.
“Saat itu ekonomi ambruk, namun sektor perkebunan kelapa sawit justru menjadi penyelamat. Malah saat Covid-19, sektor perkebunan sawit torehkan devisa tertinggi. Ini sangat luar biasa,” jelasnya.
Eddy berharap industri kelapa sawit ini harus ditata dengan baik dan dijaga. Kendati begitu, Eddy mengaku prihatin lantaran ada 37 kementerian dan lembaga yang mengelola perkebunan kelapa sawit. Sementara itu, Malaysia yang hanya memiliki satu Lembaga, namun produksi kebun kelapa sawitnya lebih besar.
SEVP Business Support PTPN IV Regional III Riau Bambang Budi Santoso menegaskan langkah yang diambil Aspekpir dengan menyelenggarakan Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 selaras dengan programnya yakni memperkuat kemitraan di perkebunan sawit.
“Kita berharap kegiatan ini mendukung terbentuknya petani kelapa sawit yang sejahtera dengan kemitraan yang kuat dan menjadi pejuang devisa negara. Kita juga pastikan bahwa produksi industri sawit akan semakin baik lewat kemitraan,” paparnya.
Sekretaris Dinas Perkebunan Riau, Supriadi berharap pertemuan ini dapat menghadirkan berbagai solusi untuk permasalahan yang ada di perkebunan sawit. “Kegiatan ini layak untuk dapat kita lanjutkan untuk membina jalinan yang sudah ada. Ini kegiatan yang dapat memperkuat kemitraan kita,” terangnya
Kata pria yang akrab disapa Ucup itu mengatakan bahwa masa depan Riau adalah perkebunan, termasuk perkebunan sawit yang memegang peran penting. Kendati begitu, sektor perkebunan sawit dihadapkan dengan permasalahan dari hulu ke hilir.
Permasalahan terbesar adalah kawasan hutan, lalu perizinan yang perlu dibenahi hingga kampanye hitam kelapa sawit. “Ini harus menjadi perhatian kita. Kita berharap muncul inovasi dan terobosan untuk penyelesaian masalah lewat forum bisnis ini,” tuturnya.
Pada kegiatan tersebut, dilakukan penandatangan tiga Memorandum of Understanding (MoU) yakni MoU antara IAS Global dan GAPKI Cabang Riau yang masing-masing langsung dilakukan oleh Country Sales & Project Manager IAS Global Edi Haryanto dan Ketua GAPKI Riau Lichwan Hartono.
Kemudian MoU antara PT Riau Plasma Mandiri milik Aspekpir Riau dengan PT Bio Sarana Indonesia (Bionusa) oleh Direktur Utama PT RPM Triyantana dengan Direktur Utama PT BSI Dunan Siahaan.
Adapun MoU ketiga antara PT Restoe Bumi Lestari dengan Aspekpir Indonesia yang ditandatangi Direktur PT Restoe Bumi Lestari Aries Setiawan Pratista dan Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono.
Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono berharap Bisnis Kemitraan Sawit 2025 dapat menjadi agenda rutin dan tahunan dalam rangka memperkokoh pengembangan sawit berkelanjutan melalui kerja sama kemitraan inti plasma yang saling menguatkan.
Dia menegaskan jika pengembangan sawit di Indonesia hingga kini kelapa sawit menjadi tulang punggung perekonomian nasional tidak terlepas dari peran strategis petani sawit plasma. “Kemitraan inti plasma adalah kemitraan strategis yang harus diperkuat,” ujarnya. (SDR)