JAKARTA – Malaysia akan mulai memproduksi biodiesel dengan campuran 15% minyak sawit (B15) mulai Juni 2026. Kebijakan ini diambil untuk menekan harga solar di tengah lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah.
Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi mengatakan, implementasi B15 akan dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, produksi akan dimulai dengan campuran biodiesel sekitar 12% sebelum ditingkatkan penuh menjadi 15%.
Sebanyak 19 pabrik biodiesel di Malaysia dijadwalkan mulai memproduksi B15 pada 1 Juni 2026. Langkah ini merupakan peningkatan dari kebijakan sebelumnya, yakni mandat biodiesel B10 (campuran 10% minyak sawit), yang selama ini diterapkan di sektor transportasi.
Baca Juga: Aman, Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel Sesuai Spesifikasi
Ke depan, pemerintah Malaysia bahkan menargetkan peningkatan campuran biodiesel hingga 20%, dan dalam jangka menengah berpotensi mendekati 50% dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia memanfaatkan biodiesel sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, terutama di tengah tingginya harga minyak global.
Saat ini, kebijakan campuran biodiesel 20% (B20) telah lebih dulu diterapkan di beberapa wilayah seperti Labuan, Langkawi, dan Sarawak (kecuali Bintulu).
Regulator industri, Malaysian Palm Oil Board memperkirakan, konsumsi biodiesel Malaysia akan meningkat lebih dari 300.000 metrik ton per tahun seiring implementasi kebijakan ini. (REL)

