Close Menu
Sawit Kita

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Agrinas Palma Bangun Ekosistem Agribisnis Perkebunan Melalui Koperasi

    14 Juli 2026

    GAPKI dan Fat and Oil Union of Russia Perkuat Kerja Sama Industri Minyak Nabati

    14 Juli 2026

    Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang ‘Wow’

    14 Juli 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Sawit KitaSawit Kita
    • Home
    • Sawit

      Agrinas Palma Bangun Ekosistem Agribisnis Perkebunan Melalui Koperasi

      14 Juli 2026

      GAPKI dan Fat and Oil Union of Russia Perkuat Kerja Sama Industri Minyak Nabati

      14 Juli 2026

      Indonesia Negara Pertama di Dunia yang Terapkan Biodiesel B50

      9 Juli 2026

      Rest Area KM 57 Cikampek Jadi Saksi Peluncuran B50

      9 Juli 2026

      Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

      9 Juli 2026
    • Klinik

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025

      Mengenal Tandan Partenokarpi dan Cara Pengendaliannya

      27 Februari 2025

      Apakah Pupuk Hayati Cocok untuk Sawit?

      30 November 2024

      Ini Manfaat Asam Humat untuk Tingkatkan Produksi Sawit

      25 November 2024
    • Pertanian

      Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang ‘Wow’

      14 Juli 2026

      Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

      9 Juli 2026

      Pertaruhan Tugas BULOG Saat Stok Beras Jumbo

      7 Juli 2026

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Tata Kelola Impor Bahan Baku Pakan Picu Jatuhnya Harga Ayam

      24 Juni 2026
    • Indepth

      Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang ‘Wow’

      14 Juli 2026

      Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

      9 Juli 2026

      Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

      9 Juli 2026

      Pertaruhan Tugas BULOG Saat Stok Beras Jumbo

      7 Juli 2026

      RI Terancam Tekor Rp70,3 Triliun dari Sawit Rakyat

      2 Juli 2026
    • Inovasi

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      Dukung B50, Kementan Ciptakan Bioreaktor Biodiesel

      24 April 2026

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      China Tertarik Beli Kredit Karbon Sawit

      27 Februari 2026

      Tim BiFlow ITS Surabaya Juara Kompetisi Inovasi Digital Sawit

      13 November 2025
    • Nasional

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Indonesia Tak Perlu Tambah Kuota Produksi Nikel

      24 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      Bareskrim Geledah Kantor Eksporter CPO 

      30 Mei 2026

      Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Begini Penjelasan Wilmar 

      29 Mei 2026
    • Kisah

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026
    • Korporasi

      Agrinas Palma Bangun Ekosistem Agribisnis Perkebunan Melalui Koperasi

      14 Juli 2026

      Pertaruhan Tugas BULOG Saat Stok Beras Jumbo

      7 Juli 2026

      Astra Agro Dorong Inovasi Benih Unggul

      12 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Begini Penjelasan Wilmar 

      29 Mei 2026
    • Hilir

      Indonesia Negara Pertama di Dunia yang Terapkan Biodiesel B50

      9 Juli 2026

      Rest Area KM 57 Cikampek Jadi Saksi Peluncuran B50

      9 Juli 2026

      Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

      9 Juli 2026

      B50 Diterapkan, Filter Bahan Bakar Fuso Jadi Perhatian

      7 Juli 2026

      Mandatori B50 Berpotensi Kerek Biaya Penambangan Sekitar 5%

      7 Juli 2026
    Button
    Sawit Kita
    Home » Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang ‘Wow’
    Berita Terbaru

    Statistikulasi & Cerita Produksi Beras Indonesia yang ‘Wow’

    *) Khudori
    By Redaksi SawitKita14 Juli 20261 Views
    Facebook Twitter LinkedIn Telegram Email WhatsApp
    Gabah
    Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp Copy Link

    JAKARTA – Statistik itu ibarat pisau dapur. Ia netral. Di tangan seorang koki, pisau dapur bisa menjadi alat menciptakan hidangan yang super lezat dan bergizi. Akan tetapi, di tangan pembunuh berdarah dingin, ceritanya akan lain. Pisau bisa berubah menjadi alat untuk mencabut nyawa. Tanpa kenal belas kasihan. Melalui analogi ini, pendek kata, statistik sebetulnya baik. Ia bisa membantu manusia menjelaskan hal tak jelas.

    Dalam dunia jurnalistik, wartawan seringkali harus memungut data untuk memperkuat tulisan. Salah satunya berupa angka. Selain harus disajikan secara teliti, logis, dan tidak rumit, angka harus bisa ‘berbicara’. Caranya, menempatkan angka dalam konteks kalimat dengan cara membandingkannya dengan hal lain. Angka tidak begitu berarti atau tidak bisa ‘bicara’ tanpa dibandingkan nilai relatifnya.

    Sebagian besar angka statistik dapat dibandingkan dengan statistik sejenis menurut waktu. Misalnya, membandingkan dengan angka tahun lalu atau kuartal keuangan mendatang. Statistik juga dapat dibandingkan dengan statistik sejenis menurut tempat. Misalnya, dibandingkan dengan negara tetangga atau perusahaan pesaing.

    Baca Juga:
    Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

    Contohnya, cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2026 tercatat USD144,9 miliar atau setara pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Angka ini lebih ‘berbicara’ setelah, misalnya, dibandingkan dengan cadangan devisa Desember 2025 yang mencapai USD156,5 miliar setara pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

    Jadi, di tangan wartawan atau seorang pencerita, data statistik bisa digunakan untuk menciptakan cerita. Sebuah angka bisa menggambarkan narasi yang diinginkan. Mau bikin suasana kota tidak aman, tinggal bilang saja angka kriminalitas naik tinggi. Mau buat pendapatan di sebuah perusahaan merata, sajikan saja menggunakan rata-rata hitung (mean) gaji. Angka itu elastis. Ia bisa dibengkokkan, dibesar-besarkan, atau dikecilkan sesuai kebutuhan. Statistik itu fleksibel: bisa digunakan sesuai cerita.

    Melalui sebuah cerita yang diarahkan, statistik bisa menjadi alat menggiring persepsi dan opini. Misalnya, ketika sebuah media menulis “Angka kriminalitas naik 50%”, publik bisa panik. Padahal, naik 50% dari berapa? Kalau kasus kriminal awal hanya 2, lalu menjadi 3, memang naik 50%. Tapi ini angka kriminalitas yang kecil kalau ditempatkan pada konteks angka 2. Tetapi siapa perduli soal konteks?

    Lalu, soal pendapatan perusahaan yang merata. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 10 karyawan: 9 staf bergaji Rp7 juta, sementara sang pemilik bergaji Rp175 juta. Jika ingin menyajikan pendapatan yang merata, bisa menggunakan rata-rata hitung gaji 10 orang karyawan: Rp23,8 juta. Angka ini terlihat tinggi. Namun, tidak mencerminkan nasib mayoritas karyawan. Jika menggunakan nilai tengah (median) didapati angka Rp7 juta. Angka ini lebih mendekati kondisi riil dan mewakili pendapatan karyawan.

    Baca Juga:
    Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

    Secara statistik, keduanya adalah ‘rata-rata’. Tapi pilihan yang digunakan, antara mean atau median, mengikuti pesan apa yang hendak disampaikan. Darrell Huff, penulis buku ‘Berbohong dengan Statistik’, menyebut kedua hal ini, dan berbagai trik lain untuk berbohong dengan statistik, dalam satu istilah besar: statistikulasi. Menurut dia, ini seni memanipulasi statistik tanpa benar-benar melakukan kebohongan matematis yang nyata. Praktik statistikulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara.

    Salah satunya adalah memilih-milih data untuk mengarahkan cerita. Sepanjang pekan ketiga Juni 2026, misalnya, sejumlah media arus utama menyuguhkan berita bahwa produksi beras Indonesia tertinggi keempat di dunia, tertinggi di Asia Tenggara, dan bahkan menjadi penopang cadangan beras dunia. Produksi beras Indonesia berada di bawah India, China, dan Bangladesh. Di Asia Tenggara, produksi beras Indonesia meninggalkan Myanmar, Filipina, dua eksportir beras yaitu Thailand dan Vietnam.

    Dasar pemberitaan ini adalah proyeksi FAO edisi Juni 2026 bertajuk Food Outlook. Laporan 137 halaman itu memproyeksikan produksi beras dunia 2026/2027 turun 1,6% menjadi 552,4 juta ton. Penurunan produksi diperkirakan terjadi antara lain di di Thailand (anjlok 6,1%), Amerika Serikat (15,2%), Brasil (12,9%), dan Kamboja (2,8%). Di tengah kontraksi produksi, produksi beras Indonesia justru bergerak naik.

    FAO menempatkan produksi beras Indonesia pada angka 38,5 juta ton pada 2025/2026 dan menjadi 38,6 juta ton pada 2026/2027, melonjak signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/2025. Kenaikan produksi RI sebesar 4,5 juta ton dari 2024/2025 ke 2025/2026 mengalahkan India (naik 1,7 juta ton), Bangladesh (1,1 juta ton), dan China (1 juta ton). FAO memperkirakan, stok beras Indonesia pada 2025/2026 mencapai 7,5 juta ton dan tembus 7,8 juta ton pada 2026/2027. Pendek kata produksi beras RI ‘wow‘.

    Selain memproyeksikan produksi, konsumsi, dan stok akhir beras di level dunia, FAO juga menaksir di level negara-negara produsen utama, terutama eksportir. Yang tidak kalah penting, FAO juga menampilkan tabel data per kawasan dan per negara, baik data produksi, konsumsi, impor, ekspor maupun stok akhir. Masalahnya, media-media, misalnya, tidak menelisik sejak kapan produksi beras Indonesia tertinggi keempat dunia dan jawara di Asia Tenggara? Agar diketahui apakah ada lompatan produksi.

    Sejatinya, predikat produsen nomor empat dunia dan tertinggi di Asia Tenggara bukan hal baru. Itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Masalah lain, media juga tidak menampilkan data konsumsi. Ini membuat cerita produksi tak seimbang. Misalnya, ketika produksi beras Indonesia diproyeksikan FAO sebesar 34,6 juta ton pada 2024/2025, 38,5 juta ton pada 2025/2026, dan 38,6 juta ton pada 2026/2027 sejatinya konsumsi berturut-turut mencapai 36,8 juta ton pada 2024/2025, 38,6 juta ton pada 2025/2026, dan 38,9 juta ton pada 2026/2027. Artinya, mengikuti proyeksi ini sebetulnya produksi beras Indonesia defisit apabila dikurangi konsumsi.

    Data lain yang seringkali dijadikan pembanding produksi oleh BPS adalah terbitan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Merujuk Grain: World Markets and Trade edisi Juni 2026 oleh USDA, produksi beras dunia 2026/2027 diperkirakan turun 1%. Di sisi lain konsumsi diperkirakan meningkat, yang membuat stok global menurun 2%. Perdagangan global naik ke rekor tertinggi, dengan India menyumbang 40% ekspor di pasar dunia. Filipina, Vietnam, dan Tiongkok tetap menjadi importir utama.

    Selain memproyeksikan di tingkat dunia baik dari sisi produksi, konsumsi, ekspor-impor, dan stok akhir, USDA juga memperkirakan produksi, konsumsi, dan stok akhir negara-negara produsen beras utama dunia. USDA memproyeksikan produksi beras Indonesia pada 2024/2025 sebesar 34,1 juta ton, turun menjadi 33,8 juta ton pada pada 2025/2026, dan turun lagi menjadi 33,6 juta ton pada 2026/2027.

    Pada periode yang sama, konsumsi beras Indonesia mencapai 35,5 juta ton pada 2024/2025, turun menjadi 35,3 juta ton pada 2025/2026, dan turun lagi menjadi 35 juta ton pada 2026/2027. Artinya, seperti data-data FAO, mengikuti proyeksi USDA sebetulnya produksi beras Indonesia defisit apabila dikurangi konsumsi. Ketika produksi beras Indonesia diproyeksikan naik dari 33,02 juta ton pada 2023/2024 jadi 33,4 juta ton pada 2024/2025, USDA dikutip. Ketika produksi tahun ini diproyeksikan menurun, data USDA diabaikan. Itu tampak dari rilis kementerian teknis.

    Mengapa narasi produksi beras Indonesia ‘wow‘ ini terjadi? Salah satu kemungkinannya adalah media-media sekadar menyitir rilis yang dibuat oleh kementerian teknis, yang data-datanya sudah diseleksi untuk mendukung narasi. Tidak ada upaya media untuk mengulik sendiri data asli. Di tengah tuntutan berita cepat dan produksi banyak, kelengkapan terkesampingkan. Yang dirugikan tentu publik. Karena dengan seleksi data kemudian mengarahkan narasi, cerita bisa berubah dan berbelok. Berbelok jauh.
    *) Khudori (Pengurus Pusat PERHEPI, Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, serta Pegiat Komite Pendayagunaan Pertanian dan AEPI)

    Beras Bulog gabah Kementan
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp
    Redaksi SawitKita
    • Facebook

    Related Posts

    Berita Terbaru

    Agrinas Palma Bangun Ekosistem Agribisnis Perkebunan Melalui Koperasi

    14 Juli 2026
    Berita Terbaru

    GAPKI dan Fat and Oil Union of Russia Perkuat Kerja Sama Industri Minyak Nabati

    14 Juli 2026
    Berita Terbaru

    Indonesia Negara Pertama di Dunia yang Terapkan Biodiesel B50

    9 Juli 2026
    Top Posts

    Satgas PKH Sita 47.000 Lahan Sawit DL Sitorus di Sumut

    24 April 202528,402 Views

    Ini Perbedaan Antara Pupuk Phonska dan Phonska Plus

    15 November 20239,902 Views

    Pupuk Dolomit untuk Sawit, Cocokkah?

    13 Juni 20237,630 Views

    Tekan Emisi Global, Program B40 Dipuji Malaysia

    7 Maret 20253,550 Views

    Genggam Aset Rp42,6 Triliun, Sinar Mas Jadi Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia

    31 Oktober 20233,197 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    • Telegram
    Facebook Instagram X (Twitter) LinkedIn Telegram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    © 2026 SawitKita. Made by MR.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.