Close Menu
Sawit Kita

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Rest Area KM 57 Cikampek Jadi Saksi Peluncuran B50

    9 Juli 2026

    Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

    9 Juli 2026

    Presiden Luncurkan B50 Hari Ini, Berapa Harganya?

    9 Juli 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Sawit KitaSawit Kita
    • Home
    • Sawit

      Rest Area KM 57 Cikampek Jadi Saksi Peluncuran B50

      9 Juli 2026

      Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

      9 Juli 2026

      Presiden Luncurkan B50 Hari Ini, Berapa Harganya?

      9 Juli 2026

      B50 Diterapkan, Filter Bahan Bakar Fuso Jadi Perhatian

      7 Juli 2026

      Mandatori B50 Berpotensi Kerek Biaya Penambangan Sekitar 5%

      7 Juli 2026
    • Klinik

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025

      Mengenal Tandan Partenokarpi dan Cara Pengendaliannya

      27 Februari 2025

      Apakah Pupuk Hayati Cocok untuk Sawit?

      30 November 2024

      Ini Manfaat Asam Humat untuk Tingkatkan Produksi Sawit

      25 November 2024
    • Pertanian

      Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

      9 Juli 2026

      Pertaruhan Tugas BULOG Saat Stok Beras Jumbo

      7 Juli 2026

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Tata Kelola Impor Bahan Baku Pakan Picu Jatuhnya Harga Ayam

      24 Juni 2026

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026
    • Indepth

      Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

      9 Juli 2026

      Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

      9 Juli 2026

      Pertaruhan Tugas BULOG Saat Stok Beras Jumbo

      7 Juli 2026

      RI Terancam Tekor Rp70,3 Triliun dari Sawit Rakyat

      2 Juli 2026

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026
    • Inovasi

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      Dukung B50, Kementan Ciptakan Bioreaktor Biodiesel

      24 April 2026

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      China Tertarik Beli Kredit Karbon Sawit

      27 Februari 2026

      Tim BiFlow ITS Surabaya Juara Kompetisi Inovasi Digital Sawit

      13 November 2025
    • Nasional

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Indonesia Tak Perlu Tambah Kuota Produksi Nikel

      24 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      Bareskrim Geledah Kantor Eksporter CPO 

      30 Mei 2026

      Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Begini Penjelasan Wilmar 

      29 Mei 2026
    • Kisah

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026
    • Korporasi

      Pertaruhan Tugas BULOG Saat Stok Beras Jumbo

      7 Juli 2026

      Astra Agro Dorong Inovasi Benih Unggul

      12 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Begini Penjelasan Wilmar 

      29 Mei 2026

      Wilmar, Sinar Mas, RGE, dan Musim Mas Diselidiki Kemenkeu 

      29 Mei 2026
    • Hilir

      Rest Area KM 57 Cikampek Jadi Saksi Peluncuran B50

      9 Juli 2026

      Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

      9 Juli 2026

      B50 Diterapkan, Filter Bahan Bakar Fuso Jadi Perhatian

      7 Juli 2026

      Mandatori B50 Berpotensi Kerek Biaya Penambangan Sekitar 5%

      7 Juli 2026

      Mesir Tak Persoalkan Impor CPO Melalui DSI, Dubes: Yang Penting Lancar

      2 Juli 2026
    Button
    Sawit Kita
    Home » Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50
    Berita Terbaru

    Sejarah Biodiesel di Indonesia:  Dimulai B5, Kini Telah B50

    By Redaksi SawitKita9 Juli 20261 Views
    Facebook Twitter LinkedIn Telegram Email WhatsApp
    Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp Copy Link

    JAKARTA – Pemerintah akan meresmikan program mandatori biodiesel B50 atau campuran 50% fatty acid methyl ester (FAME) dari kelapa sawit dengan 50% solar pada hari ini, Kamis (9/7/2026). Komitmen ini dipertegas oleh Istana Kepresidenan yang menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan langsung peluncuran komersial biodiesel B50 tersebut pada hari ini.

    Melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak berupa Minyak Solar sebesar 50% yang diteken Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pertengahan Juni lalu, pemerintah menggaransi infrastruktur dari hulu hingga hilir telah sepenuhnya siap.

    Baca Juga:
    B50 Gerus Neraca Perdagangan Rp18,15 Triliun

    Hal ini termasuk kesiapan 126 terminal bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina untuk menyalurkan 37,92 juta liter B50 sebagai awalan hingga berkembang menjadi 87,27 juta liter per hari untuk disalurkan secara nasional.

    Sebelum sampai pada tahapan B50 saat ini, mandatori bahan bakar nabati (biofuel) di Indonesia telah melalui perjalanan panjang dari tahun ke tahun. Berikut rekapitulasinya:

    2006
    Tonggak awal pengembangan biodiesel di dalam negeri resmi dimulai pada 2006 karena dimotivasi oleh lonjakan harga minyak akibat menipisnya pasokan minyak dunia. Sebagai respons, Presiden yang saat itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono, menerbitkan Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.

    Regulasi ini menjadi landasan hukum pertama yang memperkenalkan diversifikasi energi dan menargetkan kontribusi bahan bakar nabati (BBN) sebesar 5% pada 2025. Pada tahun inilah, uji coba B5 atau pencampuran 2,5%—5% biodiesel ke dalam solar fosil pertama kali dimulai secara terbatas.

    2008
    Kebijakan pemanfaatan minyak sawit sebagai campuran bahan bakar solar atau diesel secara formal diperkuat pada 2008 melalui Peraturan Menteri ESDM No. 32/2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain.

    Penggunaan campuran biodiesel ini diterapkan pada sektor rumah tangga, transportasi umum atau public service obligation (PSO) dan non-PSO, industri dan komersial, serta pembangkit listrik. Walakin, mandatori biodiesel dalam campuran solar baru resmi ditetapkan pada Oktober 2008.

    2013
    Guna mempercepat energi hijau dalam bauran energi primer nasional, pemerintah kemudian merevisi aturan utama melalui Permen ESDM No. 25/2013 yang mengatur tentang kewajiban pencampuran bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel ke dalam bahan bakar minyak (BBM) solar.

    Lewat regulasi penyempurnaan ini, pemerintah melakukan penyesuaian target dengan meningkatkan tahapan besaran pemanfaatan kandungan biodiesel secara berkala hingga menyentuh batas maksimal baru yaitu 25% pada 2025.

    Walau begitu, realisasi volume serapan biodiesel pada periode 2008—2013 masih relatif kecil—di bawah 1 juta kiloliter (kl) per tahun — karena fluktuasi harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dunia dan belum adanya sistem insentif pembiayaan yang stabil bagi produsen.

    2014
    Akselerasi terus berlanjut pada tahun berikutnya, seiring dengan diterbitkannya Permen ESDM No. 20/2014. Regulasi ini menjadi payung hukum utama untuk kewajiban pencampuran biodiesel ke dalam BBM jenis solar.

    Pemerintah kembali menaikkan batas ambang batas mandatori pencampuran bahan bakar nabati secara nasional, di mana porsi campuran kelapa sawit pada bahan bakar solar ditingkatkan targetnya menjadi 30%.

    2015
    Periode 2015 menjadi titik balik krusial bagi tata niaga biodiesel nasional dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 24/2015 yang melandasi pembentukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

    Melalui mekanisme penghimpunan dana pungutan ekspor (PE) CPO oleh BPDPKS, pemerintah memiliki amunisi untuk memberikan insentif guna menutup selisih harga indeks pasar solar fosil dengan biodiesel.

    Didukung oleh Permen ESDM No. 12/2015 sebagai perubahan ketiga atas regulasi induk tata niaga biofuel, kadar pencampuran langsung melonjak menjadi B15 dengan realisasi volume penyaluran domestik pada tahun tersebut tercatat mencapai sekitar 862.000 kl.

    Peraturan ini menjadi krusial karena menetapkan cetak biru (blueprint) dan tahapan wajib instruksi pencampuran yang menjadi acuan utama kementerian serta badan usaha dalam mengimplementasikan perluasan mandatori biodiesel tahun-tahun berikutnya.

    2016
    Indonesia mencatatkan dobrakan penting di panggung internasional dengan resmi menerapkan mandatori B20 secara masif sejak awal 2016. Keberhasilan program bauran 20% minyak sawit ini utamanya terlihat pada sektor transportasi nasional, yang kemudian mendorong perluasan pemberian insentif komparatif dari sektor subsidi (PSO) hingga ke sektor komersial nonsubsidi (non-PSO).

    2020—2022
    Mulai 1 Januari 2020, Indonesia resmi mengimplementasikan program B30 (campuran 30% biodiesel) yang dilandasi oleh Keputusan Menteri ESDM Nomor 227 K/2019. Meskipun pergerakan ekonomi sempat melambat akibat pandemi Covid-19, komitmen pemerintah terhadap ketahanan energi tidak surut.

    Pada 2021, realisasi volume domestik tercatat sebesar 9,3 juta kl dan terus menanjak hingga mencapai 10,45 juta kl pada 2022, sehingga menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara terdepan di dunia dalam hal konsumsi bahan bakar nabati berbasis sawit.

    Program pengembangan energi bersih nasional berhasil mencatatkan sejarah baru pada 2020 melalui peluncuran mandatori B30, yang sekaligus mengukuhkan Indonesia sebagai pionir global dalam pemanfaatan biodiesel komersial tertinggi.

    2023
    Tidak berhenti di tingkat campuran 30%, perluasan mandatori berlanjut secara resmi menjadi B35 pada 1 Februari 2023 berdasarkan Surat Edaran Direktorat Jenderal EBTKE Nomor 10.E/EK.05/DJE/2022 Kementerian ESDM.

    Program B35 terbukti berjalan sukses dan berkelanjutan, di mana realisasi volume serapan biodiesel domestik mencatatkan angka sebesar 12,3 juta kl pada 2023 dan naik lagi menjadi sekitar 13,2 juta kl pada 2024.

    Hingga akhir tahun tersebut, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat pemanfaatan B35 berhasil menyelamatkan devisa negara dari ketergantungan pasokan impor hingga mencapai Rp120,54 triliun.

    2025
    Tepat pada 1 Januari 2025, pemerintah secara resmi meluncurkan komersialisasi biodiesel B40 secara nasional setelah seluruh rangkaian uji jalan dan tes performa mesin dinyatakan tuntas. Mandatori ini dipayungi oleh Keputusan Menteri ESDM Nomor 341.K/EK.01/MEM.E/2024.

    Guna memenuhi kebutuhan solar nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan swasembada energi, pemerintah mematok alokasi awal sebesar 15,6 juta kl.

    Hingga penutupan 2025, realisasi pemanfaatan domestik berhasil menembus angka 14,2 juta kl atau 105,2% dari target IKU Kementerian ESDM yang dipatok 13,5 juta kl.

    Kebijakan mandatori B40 pada 2025 ini tercatat berhasil memotong volume impor solar fosil secara signifikan, menghemat devisa negara sebesar Rp130,21 triliun, dan memangkas emisi karbon hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.

    2026
    Kini pada 2026, mimpi swasembada energi Indonesia dilanjutkan dengan dimulainya mandatori biodiesel B50 per 1 Juli. Melalui ketersediaan pasokan CPO domestik yang melimpah—mencapai 46 juta ton per tahun sementara kebutuhan B50 hanya sekitar 5,3 juta ton—implementasi B50 ditargetkan mampu memutus total ketergantungan impor solar nasional, membawa Indonesia selangkah lebih dekat menuju kedaulatan energi hijau seutuhnya.

    Menurut Prabowo, mandatori B50 ini menjadi salah satu langkah yang dilakukan agar Indonesia dapat menuju swasembada energi, khususnya menekan impor solar. “Juli ini, beberapa hari lagi, kita akan launching B50. B50 [adalah] solar [yang] akan kita olah dari kelapa sawit 50%. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara,” ungkap Prabowo dalam pidatonya di acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026).

    Prabowo menambahkan, dalam jangka waktu 3 tahun atau maksimal 4 tahun dari sekarang, Indonesia dapat melakukan swasembada energi termasuk tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis apapun. “Saya perkirakan tiga tahun lagi, maksimal empat tahun lagi, kita akan swasembada energi. Kita tidak akan impor apapun untuk BBM, untuk energi kita saudara-saudara,” tegasnya.

    Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan, Indonesia akan menyetop impor BBM jenis solar pada tahun ini seiring dengan beroperasinya mandatori biodiesel 50% atau B50 per Juli 2026.

    “Besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita. Mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar,” terang Bahlil dalam agenda Energy Forum CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).

    Menurut Bahlil, dengan hadirnya B50, Indonesia bisa mencakup sebanyak 300.000 barel minyak per hari. Artinya, impor minyak mentah sebanyak 1 juta barel per hari digadang-gadang bisa berkurang menjadi 700.000 barel.

    “Karena 300.000 barelnya itu dikonversi dengan apa namanya B50, FAME itu. Nah ini kan kalau tidak dapat minyak di laut, tidak dapat minyak di darat, ya dapat minyak tumbuhan saja,” kata Bahlil. (ANG)

    B50 BPDP GAPKI Kementerian ESDM Pertamina
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp
    Redaksi SawitKita
    • Facebook

    Related Posts

    Berita Terbaru

    Rest Area KM 57 Cikampek Jadi Saksi Peluncuran B50

    9 Juli 2026
    Berita Terbaru

    Presiden Luncurkan B50 Hari Ini, Berapa Harganya?

    9 Juli 2026
    Berita Terbaru

    Urgensi Cadangan Beras Pemerintah Multikualitas

    9 Juli 2026
    Top Posts

    Satgas PKH Sita 47.000 Lahan Sawit DL Sitorus di Sumut

    24 April 202528,401 Views

    Ini Perbedaan Antara Pupuk Phonska dan Phonska Plus

    15 November 20239,892 Views

    Pupuk Dolomit untuk Sawit, Cocokkah?

    13 Juni 20237,628 Views

    Tekan Emisi Global, Program B40 Dipuji Malaysia

    7 Maret 20253,550 Views

    Genggam Aset Rp42,6 Triliun, Sinar Mas Jadi Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia

    31 Oktober 20233,196 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    • Telegram
    Facebook Instagram X (Twitter) LinkedIn Telegram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    © 2026 SawitKita. Made by MR.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.