Close Menu
Sawit Kita

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Riau Perketat Penggunaan Dana Bagi Hasil Sawit

    24 April 2026

    Pelaku Usaha Industri Daging Sapi Berdarah-darah, Siapa Diuntungkan?

    24 April 2026

    Aman, Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel Sesuai Spesifikasi

    24 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Sawit KitaSawit Kita
    • Home
    • Sawit

      Riau Perketat Penggunaan Dana Bagi Hasil Sawit

      24 April 2026

      Aman, Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel Sesuai Spesifikasi

      24 April 2026

      Harga Patokan B50 Bakal Dirilis Tiap Bulan

      24 April 2026

      Dukung B50, Kementan Ciptakan Bioreaktor Biodiesel

      24 April 2026

      Agrinas-KPBN Perkuat Sistem Pemasaran CPO Nasional

      24 April 2026
    • Klinik

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025

      Mengenal Tandan Partenokarpi dan Cara Pengendaliannya

      27 Februari 2025

      Apakah Pupuk Hayati Cocok untuk Sawit?

      30 November 2024

      Ini Manfaat Asam Humat untuk Tingkatkan Produksi Sawit

      25 November 2024
    • Pertanian

      Pelaku Usaha Industri Daging Sapi Berdarah-darah, Siapa Diuntungkan?

      24 April 2026

      Dukung B50, Kementan Ciptakan Bioreaktor Biodiesel

      24 April 2026

      BULOG Siap Bangun 100 Infrastruktur Pascapanen Senilai Rp5 Triliun

      1 April 2026

      Prabowo Bakal Sita 4-5 Juta Ha Kebun Sawit Ilegal di 2026

      8 Januari 2026

      Ikuti Perintah KDM, Kebun Sawit di Cirebon Diganti Mangga Gincu

      8 Januari 2026
    • Indepth

      Pelaku Usaha Industri Daging Sapi Berdarah-darah, Siapa Diuntungkan?

      24 April 2026

      Perang Israel & AS vs Iran: Harga CPO Meroket!

      30 Maret 2026

      Ada Transaksi Jumbo di Saham FAPA, Dikendalikan Keluarga Fangiono?

      27 Maret 2026

      ‘Bom Waktu’ Stok Jumbo Beras Bulog

      11 November 2025

      Melihat Bekantan dan Tanaman Endemik di Hutan Konservasi Astra Agro

      3 November 2025
    • Inovasi

      Dukung B50, Kementan Ciptakan Bioreaktor Biodiesel

      24 April 2026

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      China Tertarik Beli Kredit Karbon Sawit

      27 Februari 2026

      Tim BiFlow ITS Surabaya Juara Kompetisi Inovasi Digital Sawit

      13 November 2025

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025
    • Nasional

      Aman, Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel Sesuai Spesifikasi

      24 April 2026

      Helikopter Jatuh di Sekadau, 8 Korban Ditemukan Tewas

      17 April 2026

      Helikopter yang Ditumpangi CEO KPN Plantation Jatuh di Sekadau

      17 April 2026

      Pemerintah Terapkan B50 pada 1 Juli 2026, Hemat Subsidi Rp48 Triliun

      31 Maret 2026

      Prabowo: B50 Diberlakukan Tahun Ini

      30 Maret 2026
    • Kisah

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026
    • Korporasi

      Agrinas-KPBN Perkuat Sistem Pemasaran CPO Nasional

      24 April 2026

      Agrinas Dorong Hilirisasi Sawit Rakyat Berbasis Koperasi

      23 April 2026

      Helikopter Jatuh di Sekadau, 8 Korban Ditemukan Tewas

      17 April 2026

      Helikopter yang Ditumpangi CEO KPN Plantation Jatuh di Sekadau

      17 April 2026

      Astra Agro Siapkan Capex Rp1,4 Triliun, 63,8% untuk Replanting

      15 April 2026
    • Hilir

      Aman, Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel Sesuai Spesifikasi

      24 April 2026

      Harga Patokan B50 Bakal Dirilis Tiap Bulan

      24 April 2026

      Pemerintah Terapkan B50 pada 1 Juli 2026, Hemat Subsidi Rp48 Triliun

      31 Maret 2026

      Alokasi B40 Naik Jadi 15,646 Juta Kiloliter

      27 Februari 2026

      MinyaKita Dijual di Atas HET, Mentan: Produsen-Distributor Harus Diproses Hukum

      22 Februari 2026
    Button
    Sawit Kita
    Home ยป Implikasi Industri Agro
    Berita Terbaru

    Implikasi Industri Agro

    Bohong besar kalau ada yang menjanjikan petani akan makmur sejahtera dengan lahan 0,25 ha/KK, karena ada kepastian pasar/off taker/contract farming atau mekanisasi.
    By Redaksi SawitKita29 Januari 20249 Views
    Facebook Twitter LinkedIn Telegram Email WhatsApp
    Praktisi Pertanian Wayan Supadno
    Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp Copy Link

    JAKARTA – Di Jepang utamanya Hokkaido indeks luas sawah petani makin luas dari tahun ke tahun, begitu juga di Korea Selatan. Itu terjadi karena industri agro ruas hilir berjalan semestinya. Tujuannya agar petani pangan bisa sejahtera, lalu betah bertani produksi pangan untuk bangsanya. Karena syarat mutlak agar petani sejahtera harus punya lahan luas.

    Di Indonesia sebaliknya, dulunya indeks kepemilikan sawah 3 hektare (ha)/KK sekarang tinggal 0,25 ha/KK. Itu pun jumlahnya makin banyak. Sensus Pertanian 2013 ada 14,3 juta KK, tahun 2023 ada 16,68 juta KK. Itu terjadi karena proses industri manufaktur tidak jalan. Semua anak petani tanpa ekspansi, justru berbagi warisan.

    Prinsipnya secanggih apapun teknologinya jika luas sawah hanya 0,3 ha, tiada kan mungkin bisa mengalahkan luas 30 ha/KK, jika sama-sama menanam padi jagung dan kedelai maupun palawija. Penting dicatat, jika hanya 0,25 ha/KK menanam padi jagung kedelai mustahil laba didapat di atas Rp1,5 juta/bulan/KK. Ini ekonometrikanya.

    Artinya bohong besar kalau ada yang menjanjikan petani akan makmur sejahtera dengan lahan 0,25 ha/KK, karena ada kepastian pasar/off taker/contract farming atau mekanisasi. Karena lazimnya 0,25 ha hanya akan dapat padi 1,5 ton GKP setara Rp7,5 juta, jagung 1,5 ton setara Rp10 juta dan 0,4 ton kedelai setara Rp3,6 juta. Total omzet Rp20 juta dan laba Rp7 juta/tahun.

    Maka solusinya harus ada upaya penambahan luas sawah kita yang saat ini hanya 7,1 juta ha (BPS). Di India 56,7 juta ha, itulah sebab India bisa ekspor beras. Rasionya 500 meter sawah per kapita penduduk, berarti Indonesia idealnya 14 juta ha, kurang 7 juta ha lagi. Agar bisa menanam kedelai 1,5 juta ha, jagung 0,9 juta ha, tebu 0,8 juta ha, agar impor bisa distop.

    Berikut contoh konkret implikasi industri inovasi agro

    Tahun 2012, di Malaysia banyak perusahaan refinery CPO bangkrut massal. Tangki CPO raksasa pada mangkrak. Karena sebelum tahun 2012 Malaysia impor CPO dari Indonesia jutaan ton per tahun. Kebangkrutan massal di Malaysia akibat langsung industri hilir agro inovasi tahun 2012 di Indonesia menjamur di mana-mana. Hampir stop total ekspor CPO ke Malaysia.

    Implikasinya, Malaysia geger. PHK besar-besaran utamanya TKI, penerimaan pajak berkurang drastis. Sebaliknya di Indonesia dapat nilai tambah besar-besaran, APBN naik tajam dari pajak industri refinery, perekrutan tenaga kerja di atas 1,3 juta orang pengangguran. Tidak terbayang jika 1,3 juta orang tersebut jadi petani semua dengan cara rebutan sawah yang ada. Pasti makin sempit indeks sawah petani.

    Ilmu hikmahnya, industri agro hilir inovatif bisa jalan. Karena ada yang mau investasi. Ada pengusaha pemilik modal yang tertarik investasi pada refinery. Tertarik karena dapat kemudahan khusus jaminan percepatan izin tuntas, ada dukungan jalan dan PLN, ada insentif tanpa pajak pada tahun pertama dan pungutan ekspor oleokimia diminimalkan, dibanding ekspor CPO minyak mentah.

    Implikasi lainnya, banyak pengangguran terserap pada produk turunan berikutnya. Yang dulunya numpang hidup kepada yang tidak menganggur berubah jadi mandiri karena punya pendapatan dari gajinya. Dari miskin jadi sejahtera di negeri sendiri, tidak perlu jadi TKI di Malaysia kalau hanya sama kerja di industri refinery. Pedesaan terhambat tidak jadi lumbung kemiskinan hingga 51% dari total kemiskinan.

    Tentu masih sangat banyak contoh industri hilir agro inovatif di Indonesia, walaupun masih sangat jauh dari harapan. Misal porang serapan tenaga kerja anak petani juga jumlah besar kerja di industrinya.

    Gandum juga sama jadi mi instan sebagian diekspor lagi, walaupun bahan bakunya impor. Ekstrak buah segar juga menyerap banyak anak-anak petani kerja di industri. Total jutaan orang, bayangkan jika semua rebutan sawah.

    Kesimpulan

    1. Kita tidak boleh ingkar terhadap ajaran ilmu pengetahuan. Bahwa indeks kepemilikan lahan pangan kalau mau mandiri harus 500 meter/kapita, idealnya 14 juta ha berarti kurang 7 juta ha lagi. Harus cetak sawah food estate. Kita harus sadar berdasar data empirik (ekonometrika) lahan 0,25 ha/KK mustahil petani bisa sejahtera jika menanam padi jagung kedelai.
    2. Sangat wajar Kemenko PMK melaporkan 49,8% dari total petani miskin rentan miskin. Wajar juga kalau akhirnya kita kehilangan petani selama 10 tahun ini lebih dari 3 juta KK (Sensus Pertanian 2023). Wajar orang tua petani yang mau mewariskan profesi petani hanya 27% karena tidak mau melihat anak cucunya miskin (Prof. Farida, IPB). Wajar kalau jadinya pangan kurang, lalu impor hingga Rp330 triliun/tahun.
    3. Solusinya, harus cetak sawah atau food estate untuk petani agar goal rasional perluasan lahan pangan dari saat ini hanya 7,1 juta ha jadi 14 juta ha dan indeks sawah petani bisa minimal 3 ha/KK. Caranya libatkan pengembang cetak sawah berpengalaman di lapangan, hemat APBN. Bukan yang asal hafal literatur buku saja tapi tanpa pernah praktik. Lalu pengembang mengkreditkan bunga lunak ke petani diangsur dari hasil panennya. Seperti plasma sawit atau KPR rumah.
    4. Serius perbaikan iklim usaha industri agro inovatif ruas hilir. Agar menyerap hasil tani dapat kepastian pasar. Agar menyerap anak petani untuk produktif pendapatan sehat tanpa rebutan berbagi warisan sawah yang makin sempit. Agar ada serapan hasil penelitian yang banyak tersimpan di lemari, agar membumi bermanfaat bagi yang mendanai penelitian tersebut yaitu rakyat pembayar pajak jadi APBN. (Wayan Supadno/Praktisi Pertanian)
    Food estate Implikasi Industrialisasi Agro kepemilikan lahan kecil Kolom Wayan Supadno
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp
    Redaksi SawitKita
    • Facebook

    Related Posts

    Berita Terbaru

    Riau Perketat Penggunaan Dana Bagi Hasil Sawit

    24 April 2026
    Berita Terbaru

    Pelaku Usaha Industri Daging Sapi Berdarah-darah, Siapa Diuntungkan?

    24 April 2026
    Berita Terbaru

    Aman, Uji Coba B50 Pada Mesin Diesel Sesuai Spesifikasi

    24 April 2026
    Top Posts

    Satgas PKH Sita 47.000 Lahan Sawit DL Sitorus di Sumut

    24 April 202528,374 Views

    Ini Perbedaan Antara Pupuk Phonska dan Phonska Plus

    15 November 20239,588 Views

    Pupuk Dolomit untuk Sawit, Cocokkah?

    13 Juni 20237,601 Views

    Tekan Emisi Global, Program B40 Dipuji Malaysia

    7 Maret 20253,547 Views

    Genggam Aset Rp42,6 Triliun, Sinar Mas Jadi Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia

    31 Oktober 20233,164 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    • Telegram
    Facebook Instagram X (Twitter) LinkedIn Telegram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    © 2026 SawitKita. Made by MR.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.