JAKARTA – Produksi CPO bulan Agustus 2026 mencapai 4.880.000 ton, turun -0,50% dari bulan sebelumnya 4.904.000 ton. Produksi PKO bulan Agustus juga turun menjadi 464.000 ton dari 466.000 ton di bulan Juli sehingga total produksi CPO+PKO bulan Agustus 2026 mencapai 5.343.000 ton atau turun -0,50% dari bulan sebelumnya 5.370.000 ton.
Data GAPKI menunjukkan, secara kumulatif Januari–Agustus 2026, total produksi CPO+PKO mencapai 40.997.000 ton, lebih tinggi 5,02% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 39.037.000 ton. Total konsumsi dalam negeri pada bulan Agustus 2026 mencapai 2.304.000 ton, naik 1,28% dibandingkan bulan Juli sebesar 2.275.000 ton.
Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono mengatakan peningkatan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.350.000 ton, naik 5,03% dari 1.285.000 ton pada bulan Juli. Penurunan terjadi pada konsumsi pangan yang turun -3,79% menjadi 775.000 ton dari 805.000 ton di bulan Juli dan konsumsi oleokimia juga turun -2,70% menjadi 180.000 ton dari 185.000 ton di bulan Juli.
Baca Juga: Stok CPO Dipastikan Cukup untuk Penuhi Program B40
“Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 17.523.000 ton, lebih tinggi 6,81% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 16.406.000 ton,” kata Mukti.
Total ekspor produk sawit pada bulan Agustus 2026 mencapai 3.588.000 ton, naik 12,56% dibandingkan bulan Juli sebesar 3.188.000 ton. Peningkatan terjadi pada ekspor olahan minyak sawit menjadi 2.643.000 ton dari 2.296.000 ton (15,12%), ekspor CPO menjadi 329.000 ton dari 249.000 ton (31,83%), dan ekspor olahan minyak inti sawit menjadi 113.000 ton dari 99.000 ton (14,58%).
“Sedangkan penurunan ekspor terjadi pada oleokimia yang turun menjadi 501.000 ton dari 537.000 ton pada bulan sebelumnya (-6,74%) dan ekspor CPKO turun menjadi 3.000 ton dari 7.000 ton (-62,54%),” katanya.
Baca Juga: Stok Menipis, Harga CPO Dunia Terus Menguat
Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, kata Mukti, total ekspor mencapai 23.370.000 ton, lebih tinggi 2,97% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 22.696.000 ton. Nilai ekspor produk sawit pada bulan Agustus 2026 mencapai USD4,29 miliar, naik dari USD3,81 miliar pada bulan Juli atau sebesar 12,62%.
Rata-rata harga ekspor CPO pada bulan Agustus USD1.164 per ton lebih rendah dari harga rata-rata bulan Juli sebesar USD1.168 (-0,34%). Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, nilai ekspor mencapai USD27,55 miliar, lebih tinggi 11,14% dari tahun 2025 sebesar USD24,78 miliar.
Peningkatan nilai ekspor terjadi antara lain karena harga tahun 2026 yang relatif lebih baik. Rata-rata harga ekspor CPO selama Januari–Agustus 2026 tercatat USD1.140 per ton, lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata periode yang sama tahun 2025 sebesar USD1.075 per ton.
Menurut negara tujuannya, peningkatan ekspor pada bulan Agustus 2026 dibandingkan bulan Juli 2026 antara lain terjadi untuk tujuan Pakistan sebesar 265.000 ton (+113%), India sebesar 89.000 ton (+27%), Russia sebesar 77.000 ton (+250%), Bangladesh sebesar 66.000 ton (+48%) dan Malaysia sebesar 38.000 ton (+26%).
Baca Juga: Bahlil Pastikan Stok CPO Aman untuk Program B60
“Penurunan ekspor terjadi untuk tujuan EU-27 sebesar 160.000 ton (-44%), USA sebesar 36.000 ton (-14%), China sebesar 19.000 ton (-3%) dan Afrika sebesar 13.000 ton (-3%),” papar Mukti.
Namun apabila dihitung secara kumulatif selama periode Januari–Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun 2025 adalah: ekspor ke China 24,7% lebih tinggi, Russia 11,5% lebih tinggi, Malaysia 7,8% lebih tinggi, Bangladesh 6,2% lebih tinggi dan Afrika 3,8% lebih tinggi.
“Sebaliknya ekspor untuk tujuan India 20,2% lebih rendah dari tahun 2025, USA 3,9% lebih rendah, Pakistan 1,7% lebih rendah dan EU-27 0,4% lebih rendah,” kata Mukti.
Dengan stok awal tahun sebesar 2.068.000 ton, total produksi Januari–Agustus 2026 sebesar 40.997.000 ton, total konsumsi dalam negeri sebesar 17.523.000 ton, total ekspor sebesar 23.370.000 ton, serta impor sebesar 43.000 ton, maka stok akhir bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 2.214.000 ton. (REL)

