Close Menu
Sawit Kita

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

    24 Juni 2026

    Tata Kelola Impor Bahan Baku Pakan Picu Jatuhnya Harga Ayam

    24 Juni 2026

    Indonesia Tak Perlu Tambah Kuota Produksi Nikel

    24 Juni 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    Sawit KitaSawit Kita
    • Home
    • Sawit

      Tingkatkan Daya Saing, BPDP Bersama Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan SDM Sawit

      23 Juni 2026

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      BPDP Gandeng Ditjenbun dan PT SIB Adakan Pelatihan SDM Pekebun Sawit Sumsel

      23 Juni 2026

      Ekspor Sawit Lewat DSI, Begini Respon Singapura

      12 Juni 2026

      Ekspor Sawit Wajib Lewat DSI Mulai 2027

      12 Juni 2026
    • Klinik

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      Grant Riset Sawit 2025: 55 Proposal Lolos Seleksi Presentasi

      11 November 2025

      Mengenal Tandan Partenokarpi dan Cara Pengendaliannya

      27 Februari 2025

      Apakah Pupuk Hayati Cocok untuk Sawit?

      30 November 2024

      Ini Manfaat Asam Humat untuk Tingkatkan Produksi Sawit

      25 November 2024
    • Pertanian

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Tata Kelola Impor Bahan Baku Pakan Picu Jatuhnya Harga Ayam

      24 Juni 2026

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan

      23 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026
    • Indepth

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      Mengapa Menaikkan HET Minyakita Bukan Solusi?

      11 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      B50 dan Neraca Sawit Indonesia

      6 Mei 2026
    • Inovasi

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      Dukung B50, Kementan Ciptakan Bioreaktor Biodiesel

      24 April 2026

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026

      China Tertarik Beli Kredit Karbon Sawit

      27 Februari 2026

      Tim BiFlow ITS Surabaya Juara Kompetisi Inovasi Digital Sawit

      13 November 2025
    • Nasional

      Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

      24 Juni 2026

      Indonesia Tak Perlu Tambah Kuota Produksi Nikel

      24 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      Bareskrim Geledah Kantor Eksporter CPO 

      30 Mei 2026

      Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Begini Penjelasan Wilmar 

      29 Mei 2026
    • Kisah

      PTPN IV PalmCo Jadi Lokasi Implementasi Inovasi Serangga Penyerbuk Asal Tanzania

      15 April 2026
    • Korporasi

      Astra Agro Dorong Inovasi Benih Unggul

      12 Juni 2026

      Penolakan Puluhan Desa Atas Beras Bantuan Bulog: “Bom Waktu” Mulai Menyala?

      11 Juni 2026

      Diduga Manipulasi Ekspor CPO, Begini Penjelasan Wilmar 

      29 Mei 2026

      Wilmar, Sinar Mas, RGE, dan Musim Mas Diselidiki Kemenkeu 

      29 Mei 2026

      Kejagung Segera Ungkap Identitas 10 Eksportir CPO

      29 Mei 2026
    • Hilir

      Potensi Gula Merah Sawit yang Dianak-tirikan

      23 Juni 2026

      Semua Minyakita Diguyur ke Pasar, Tak Ada Buat Bansos!

      11 Juni 2026

      Mengapa Menaikkan HET Minyakita Bukan Solusi?

      11 Juni 2026

      Minyakita Langka di Pasaran dan Lampaui HET

      11 Juni 2026

      Ketinggalan Jauh, Malaysia Baru Akan Terapkan B15

      5 Mei 2026
    Button
    Sawit Kita
    Home » Indonesia Tak Perlu Tambah Kuota Produksi Nikel
    Berita Terbaru

    Indonesia Tak Perlu Tambah Kuota Produksi Nikel

    By Redaksi SawitKita24 Juni 20264 Views
    Facebook Twitter LinkedIn Telegram Email WhatsApp
    Direktur Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum
    Direktur Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum.
    Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp Copy Link

    JAKARTA — Transisi Bersih meminta Pemerintah Indonesia tidak menambah kuota produksi nikel pada 2026. Wacana penambahan kuota baru dinilai berisiko merusak momentum pemulihan harga nikel global yang mulai terbentuk setelah pemerintah memperketat produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bijih nikel.

    Transisi Bersih menilai kuota produksi nikel 2026 sebaiknya tetap dipertahankan pada kisaran 250 juta hingga 270 juta ton, sesuai arah kebijakan RKAB. Menurut lembaga think tank ini, terdapat dua alasan utama untuk mempertahankan batas produksi tersebut.

    Pertama, sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki legitimasi kuat untuk mengendalikan pasokan dan memainkan peran lebih besar dalam menentukan arah pasar nikel global. Kedua, perubahan kebijakan yang terlalu cepat dan berulang dapat menurunkan kredibilitas pemerintah di hadapan investor nasional maupun global.

    Dalam beberapa bulan terakhir, pasar komoditas internasional mulai membaca perubahan posisi Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan nikel. Indonesia tidak lagi hanya dipandang sebagai pemasok komoditas murah, melainkan mulai menempatkan diri sebagai price maker yang mampu memengaruhi pergerakan harga nikel dunia. Penurunan kuota RKAB bijih nikel ke kisaran sekitar 260–270 juta ton dinilai telah membantu mendorong harga nikel global kembali ke kisaran USD17.000–19.000 per metrik ton.

    Baca Juga:
    B50 Berisiko Jadi Beban Fiskal Baru dan Gerus Devisa Ekspor Sawit

    “Ini adalah momentum yang sangat krusial bagi kedaulatan sumber daya alam kita. Indonesia akhirnya mulai belajar dan berhasil menjadi price maker dalam pasar nikel global. Jangan rusak momentum yang sudah terbentuk dengan baik ini hanya karena lobi komersial untuk kembali menambah kuota produksi,” ujar Direktur Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/6/2026).

    Persoalan utama dalam hilirisasi nikel di dalam negeri saat ini bukanlah kekurangan pasokan bijih nikel, melainkan terjadinya kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) pada fasilitas pemurnian atau smelter. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan smelter tumbuh terlalu agresif, didorong oleh berbagai insentif fiskal, fasilitas tax holiday, pasokan energi murah dari PLTU captive, serta lemahnya pengawasan lingkungan.

    Akibat kondisi tersebut, pasokan nikel olahan sempat membanjiri pasar global dan menekan harga hingga ke titik rendah. Karena itu, Transisi Bersih menilai argumen untuk menambah kuota penambangan demi menjaga utilitas smelter tidak seharusnya menjadi dasar utama kebijakan negara.

    Pemerintah tidak semestinya mengorbankan pengelolaan cadangan strategis nasional hanya untuk memastikan seluruh smelter tetap beroperasi, terlebih ketika sebagian besar fasilitas tersebut dimiliki atau didukung korporasi asing. Cadangan nikel Indonesia, menurut Transisi Bersih, perlu dikelola secara hati-hati untuk memaksimalkan nilai tambah ekonomi nasional, penerimaan negara, keberlanjutan cadangan, dan kesehatan industri dalam jangka panjang.

    Jika produksi dipaksakan bertambah, kata Rahman, sebagian kecil smelter mungkin akan tertolong dalam jangka pendek. Namun, pasar nikel dunia tidak akan mampu menyerap tambahan pasokan besar dari Indonesia, dan harga global sangat mungkin jatuh kembali. “Ini sama saja dengan mengorbankan nilai ekonomi nasional yang jauh lebih besar demi menyelesaikan masalah operasional privat yang terbatas,” kata Rahman.

    Saat ini Indonesia memegang kendali atas lebih dari 60% produksi nikel global dan menguasai lebih dari 40% cadangan nikel dunia. Dengan posisi dominan tersebut, dokumen kuota produksi seperti RKAB seharusnya tidak dipandang semata sebagai instrumen administratif, melainkan sebagai alat kebijakan ekonomi strategis untuk mengelola suplai global.

    Transisi Bersih menilai kemunculan kembali wacana penambahan kuota justru menjadi langkah mundur yang tidak konsisten. Kebijakan yang mudah berubah dinilai akan mengirimkan sinyal negatif terhadap kepastian regulasi Indonesia.

    Rahman mengataka pasar komoditas global sangat sensitif terhadap kepastian dan kredibilitas regulasi. Jika pemerintah terlihat mudah goyah dan terus berkompromi, pembeli global akan berspekulasi dan pelaku industri akan terus melakukan lobi. “Akibatnya, stabilitas harga akan sulit tercapai dan Indonesia berisiko kembali terjebak sebagai pemasok komoditas murah dalam jangka panjang,” ungkap Rahman.

    Selain meminta pemerintah mempertahankan pembatasan kuota RKAB, Transisi Bersih juga mendesak agar pemerintah segera menerapkan bea keluar secara progresif terhadap produk nikel olahan setengah jadi dan turunannya. Kebijakan ini dinilai penting agar keuntungan dari kenaikan harga nikel tidak hanya dinikmati korporasi pengelola smelter, tetapi juga kembali menjadi penerimaan negara untuk kepentingan publik.

    Peneliti senior Transisi Bersih, Sisdjiatmo K. Widhaningrat, menjelaskan, skema bea keluar progresif dapat dirancang dengan tarif bertingkat, misalnya 5% hingga 35%, mengikuti pergerakan harga internasional. Semakin tinggi harga nikel global, semakin tinggi pula tarif bea keluar yang dikenakan. Sebaliknya, tarif yang lebih rendah perlu diberikan kepada produk dengan tingkat hilirisasi lebih panjang dan nilai tambah yang lebih tinggi di dalam negeri.

    “Ini adalah momentum terbaik untuk memberlakukan bea keluar progresif. Harga komoditas sedang berada dalam tren naik, margin industri membaik, dan Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat. Tanpa instrumen ini, manfaat dari pembatasan volume produksi tidak akan sepenuhnya kembali ke tangan rakyat,” ucap Sisdjiatmo.

    Transisi Bersih kembali menegaskan bahwa nikel adalah aset strategis tidak terbarukan milik bangsa. Karena itu, Indonesia perlu meninggalkan pendekatan yang semata-mata mengejar volume produksi. “Produksi harus dikendalikan secara ketat, stabilitas harga global harus dijaga, dan manfaat ekonominya harus dikembalikan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat luas serta pembiayaan transisi energi yang berkeadilan,” ujar Sisdjiatmo. (ANG)

    ekonomi hijau Kementerian ESDM Nikel Transisi Bersih
    Share. Facebook Twitter LinkedIn Email Telegram WhatsApp
    Redaksi SawitKita
    • Facebook

    Related Posts

    Berita Terbaru

    Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?

    24 Juni 2026
    Berita Terbaru

    Tata Kelola Impor Bahan Baku Pakan Picu Jatuhnya Harga Ayam

    24 Juni 2026
    Berita Terbaru

    Tingkatkan Daya Saing, BPDP Bersama Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan SDM Sawit

    23 Juni 2026
    Top Posts

    Satgas PKH Sita 47.000 Lahan Sawit DL Sitorus di Sumut

    24 April 202528,396 Views

    Ini Perbedaan Antara Pupuk Phonska dan Phonska Plus

    15 November 20239,831 Views

    Pupuk Dolomit untuk Sawit, Cocokkah?

    13 Juni 20237,624 Views

    Tekan Emisi Global, Program B40 Dipuji Malaysia

    7 Maret 20253,550 Views

    Genggam Aset Rp42,6 Triliun, Sinar Mas Jadi Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia

    31 Oktober 20233,192 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    • Telegram
    Facebook Instagram X (Twitter) LinkedIn Telegram WhatsApp
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    © 2026 SawitKita. Made by MR.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.